Sunday, 18 November 2012
Saturday, 17 November 2012
Pengelantangan / Bleaching
08:22
![]() |
| Pengelantangan/Bleaching |
Definis Pengelantangan
Pengelantangan
dikerjakan terhadap bahan tekstil bertujuan menghilangkan warna alami yang
disebabkan oleh adanya pigmen-pigmen alam atau zat-zat lain, sehingga diperoleh
bahan yang putih. Pigmen-pigmen alam pada bahan tekstil umumnya terdapat pada
bahan dari serat-serat alam baik serat tumbuhtumbuhan maupun serat binatang
yang tertentu selama masa pertumbuhan.
Sedangkan
bahan tekstil dari serat sintetik tidak perlu dikelantang, karena pada proses
pembuatan seratnya sudah mengalami pemurnian dan pengelantangan, tetapi untuk
bahan tekstil yang terbuat dari campuran serat sintetik dan serat alam
diperlukan proses pengelantangan terutama prosesnya ditujukan terhadap serat
alamnya.
Untuk
menghilangkan pigmen-pigmen alam tersebut hanya dapat dilakukan dalam proses
pengelantangan dengan menggunakan zat pengelantang yang
bersifat
oksidator atau yang bersifat reduktor.
Pengelantangan
dapat dilakukan sampai memperoleh bahan yang putih sekali, misalnya untuk
bahan-bahan yang akan dijual sebagai benang putih atau kain
putih,
tetapi dapat pula dilakukan hanya sampai setengah putih khususnya untuk
bahan-bahan yang akan dicelup atau berdasarkan penggunaan akhirnya.
Zat
Pengelantang
Dalam
pertekstilan dikenal dua jenis zat pengelantang yaitu zat pengelantang yang
bersifat oksidator dan yang bersifat reduktor. Zat pengelantang yang bersifat
oksidator pada umumnya digunakan untuk pengelantangan serat-serat selulosa dan
beberapa di antaranya dapat pula dipakai untuk serat-serat binatang dan
seat-serat sintetis. Sedangkan zat pengelantang yang bersifat reduktor hanya
dapat digunakan untuk pengelantangan serat-serat binatang.
Zat
Pengelantang yang Bersifat Oksidator
Zat
pengelantang yang bersifat oksidator ada dua golongan, yaitu yang mengandung
khlor dan yang tidak mengandung khlor.
Zat
pengelantang oksidator yang mengandung khlor, di antaranya :
−
Kaporit (CaOCl2)
−
Natrium hipokhlorit (NaOCl)
−
Natrium khlorit (NaOClO2)
Zat
pengelantang oksidator yang tidak mengandung khlor, di antaranya :
−
Hidrogen peroksida (H2O2)
−
Natrium peroksida (Na2O2)
−
Natrium perborat (NaBO3)
−
Kalium bikhromat (K2Cr2O7)
−
Kalium permanganat (KMnO2)
Zat
Pengelantang yang bersifat reduktor, antara lain :
−
Sulfur dioksida (SO2)
−
Natrium sulfit (Na2SO3)
−
Natrium bisulfit (NaHSO3)
−
Natrium hidrosulfit (Na2S2O4)
Proses
pengelantangan bahan tekstil dapat dilakukan tidak terhadap semua jenis bahan
dari serat yang berbeda dengan zat pengelantang yang sama, tetapi harus dipilih
kesesuaiannya agar dapat memperoleh hasil yang baik.
Bahan
tekstil dari serat selulosa seperti kapas dan rayon viskosa dapat dikelantang
dengan kaporit, natrium hipokhlorit dan hidrogen peroksida. Pengelantangan rayon
viskosa biasanya menggunakan natrium hipokhlorit akan lebih aman daripada
dengan kaporit. Sedangkan pengelantangan dengan hidrogen peroksida juga lebih
baik, karena tidak terjadi kerusakan serat, tetapi
harganya
lebih mahal dan memerlukan pemanasan.
Untuk
serat protein tidak dapat dikelantang dengan zat oksidator yang mengandung
khlor, karena dapat terjadi kerusakan serat oleh khlor, sehingga lebih baik
pengelantangan serat protein dapat digunakan dengan zat pengelantang yang tidak
mengandung khlor seperti hidrogen peroksida dan zat pengelantang yang bersifat
reduktor.
Sedangkan
bahan dari serat sintetik dan rayon asetat paling baik dikelantang dengan
natrium khorit (Textone) dalam suasana asam. Rayon asetat dapat pula
dikelantang dengan natrium hipokhlorit dalam suasana asam.
Cara Membuat Batik
08:08
- Cara Membuat Batik
Berikut ini adalah alat dan bahan yang harus disiapkan
untuk membuat batik tulis :
- Kain mori (bisa
terbuat dari sutra atau katun)
- Canting sebagai alat
pembentuk motif,
- Gawangan (tempat
untuk m enyampirkan kain)
- Lilin (malam) yang dicairkan
- Panci dan kompor
kecil untuk memanaskan
- Larutan pewarna
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembutan batik tulis ini:
- Langkah pertama adalah
membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam penentuan motif,
biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka
untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti
motif-motif umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia
sendiri adalah batik yang terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain
dengan simbol-simbol, dan batik pesisiran dengan ciri khas natural seperti
gambar bunga dan kupu-kupu. Membuat design atau motif ini dapat
menggunakan pensil.
- Setelah selesai
melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam menggunakan
canting (dikandangi/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
- Tahap selanjutnya,
menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih
(tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian
berukuran besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam
larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
- Tahap berikutnya,
proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan
mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu .
- Setelah dicelupkan,
kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
- Setelah kering,
kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam
menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan
pada pewarnaan yang pertama.
- Kemudian, dilanjutkan
dengan proses pencelupan warna yang kedua.
- Proses berikutnya,
menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain
tersebut dengan air panas diatas tungku.
- Setelah kain bersih
dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan
penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan
kedua.
- Proses membuka dan
menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya
warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
- Proses selanjutnya
adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas.
Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang
telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir,
pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena
warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis
(lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut
telah siap untuk digunakan.
- Proses terakhir adalah
mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan
menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.
Proses
pembuatan batik
memiliki dua cara yang utama yaitu teknik batik tulis dan batik cap. Batik tulis adalah
batik yang dikerjakan dengan canting tulis sedangkan batik cap adalah
batik yang dikerjakan dengan teknik cap. Namun ada juga batik yang dikerjakan
dengan gabungan dua teknik tersebut yaitu gabungan teknik tulis dan cap. Batik
seperti ini disebut batik kombinasi.
Banyaknya proses pengerjaan batik tergantung dari jumlah pewarnaan (celup). Batik monokromatik dikerjakan dengan sekali proses (mbabar sepisan), batik dengan dua warna dikerjakan dengan dua kali proses (mbabar pindo), sementara batik dengan tiga warna dikerjakan dengan tiga kali proses yang disebut batik tiga negeri sebagai salah satu cirri batik pesisiran.
Setiap
proses pembatikan pada dasarnya mengalami proses yang sama sebagai berikut :
Pemalaman -
Membatik adalah pekerjaan yang saling berurutan. Artinya satu langkah
dapat dikerjakan jika langkah sebelumnya telah selesai dikerjakan. Setiap tahap
dikerjakan dengan tahap yang berbeda. Sepotong mori tidak dapat dikerjakan oleh
beberapa orang dalam waktu yang sama untuk beberapa tahapan.
Pemalaman
adalah proses penempelan malam sebagai bahan utama perintang batik ke
mori. Mori yang telah di buat polanya kemudian dimalam dengan canting
tulis maupun canting cap. Canting batik tulis yang
dipakai pada saat membuat pola batik adalang canting klowongan atau
canting dengan cucuk ukuran sedang.
Setelah
pola pokok selesai dimalam kemudian membuat isen-isennya. Canting yang
digunakan ketika membuat isen-isen bermacam-macam yaitu; canting cecekan,
canting telon, canting prapatan.
Pewarnaan - Motif
batik yang telah dicap ataupun ditulis dengan lilin malam merupakan gambaran
atau motif dari batik yang akan dibuat. Proses selanjutnya pemberian warna
sehingga pada tempat yang terbuka menjadi berwarna, sedangkan tempat yang
ditutup lilin tidak terkena warna yang diwarnai. Oleh karena itu, jumlah
pemberian lilin malam tergantung jumlah warna yang digunakan.
Pelorodan - Pelorodan adalah proses penghilangan lilin malam yang menempel pada kain mori. Menghilangkan lilin malam pada batik dapat bersifat menghilangkan sebagian atau menghilangkan keseluruhan lilin malam. Menghilangkan sebagian atau setempat adalah melepas lilin malam pada tempat-tempat tertentu dengan cara mengerok dengan alat sejenis pisau. Pekerjaan dengan cara mengerok disebut ngerok atau ngerik. Pekerjaan ini dilakukan setelah kain diwedel untuk batik sogan dari solo atau yogyakarta. Maksud dari pekerjaan ini, yaitu membuaka lilin klowongan, dimana pada bekas lilin yang dikerok ini nantinya akan diberi warna soga.
Pelorodan - Pelorodan adalah proses penghilangan lilin malam yang menempel pada kain mori. Menghilangkan lilin malam pada batik dapat bersifat menghilangkan sebagian atau menghilangkan keseluruhan lilin malam. Menghilangkan sebagian atau setempat adalah melepas lilin malam pada tempat-tempat tertentu dengan cara mengerok dengan alat sejenis pisau. Pekerjaan dengan cara mengerok disebut ngerok atau ngerik. Pekerjaan ini dilakukan setelah kain diwedel untuk batik sogan dari solo atau yogyakarta. Maksud dari pekerjaan ini, yaitu membuaka lilin klowongan, dimana pada bekas lilin yang dikerok ini nantinya akan diberi warna soga.
Penghilangan
lilin malam secara keseluruhan dapat dilakukan pada pertengahan atau akhir
proses pembuatan kain batik. Penghilangan lilin secara keseluruhan
disebut peleorodan. Pada batik pekalongan prose ini sering dilakukan. Pelorodan
yang dilakukan di tengah proses pembatikan biasanya dilakukan untuk memberikan
warna lain pada jejak lilin yang dilorod. Pelorodan yang dilakukan di akhir disebut
mbabar atau ngebyok. Pelepasan lilin dilakukan dengan air panas. Lilin akan
meleleh dalam air panas sehingga terlepas dari kain. Untuk kain dengan
pewarnaan bahan alam (nabati), air panas diberi kanji. Sementara untuk pelepas
lilin (pelorodan), kain batik dengan pewarnaan obat sintesis air lorodan
lainnya diberi soda abu.
Proses pemasakan ( Scouring Process )
07:19
![]() |
| Desizing Process |
Pemasakan adalah proses
yang bertujuan untuk menghilangkan bagian dari
komponen penyusun serat berupa minyak-minyak, lemak, lilin, kotoran-kotoran
yang tidak larut dan kotoran-kotoran kain yang menempel pada
permukaan serat dapat dihilangkan, sehingga proses selanjutnya
seperti pengelantangan, pencelupan, pencapan dan sebagainya dapat berhasil
dengan baik.
Pada dasarnya proses
pemasakan serat-serat alam dilakukan dengan alkali seperti natrium hidroksida
(NaOH), natrium carbonat (Na2CO3) dan air kapur, campuran
natrium carbonat dan sabun, amoniak dan lain-lain. Sedangkan
pemasakan serat buatan (sintetik) dapat dilakukan dengan zat aktif permukaan
yang bersifat sebagai pencuci (detergen).
Ditinjau dari sistem yang
digunakan, proses pemasakan dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu pemasakan
sistem tidak kontinyu (discontinue) contohnya pemasakan dengan bak, mesin
jigger, mesin haspel, mesin clapbau, mesin kier ketel dan pemasakan sistem
kontinyu (continue) contohnya pemasakan dengan mesin J-Box, L-Box.
Sedangkan kalau ditinjau dari
tekanan mesin yang digunakan, proses pemasakan dibagi menjadi 2 macam, yaitu
pemasakan tanpa tekanan misalnya menggunakan bak, mesin jigger, haspel,
Clapbau, J-Box dan L-Box dan pemasakan dengan tekanan, misalnya menggunakan
mesin kier ketel, jigger tertutup.
Pada proses pemasakan bahan dari
serat kapas terjadi hal-hal sebagai berikut :
- Safonifikasi
minyak menjadi garam-garam larut.
- Protein
akan pecah menjadi asam amino asam amonia.
- Mineral-mineral
dilarutkan
- Kotoran-kotoran lain disuspensikan oleh sabun yang
terbentuk.
- Zat-zat penguat yang terdapat pada serat akan
terlepas.
- Kotoran-kotoran yang disuspensikan oleh sabun yang
terbentuk.
Kotoran-kotoran luar, sisa daun,
sisa biji dapat dihilangkan secara mekanik pada meisn-mesin tertentu dengan
menggunakan alkali kuat.
Proses pemasakan (scouring) hanya dilakukan untuk
serat - serat alam karena serat sintetik relatif sudah dibuat bersih dan murni.
Proses pemasakan pada serat sintetik hanya untuk menghilangkan emulsi minyak
pelumas pada benang. Tujuan pemasakan adalah untuk menghilangkan zat2 yang
berupa kotoran dariserat nerupa minyak, malam, protein dan debu.
Pada dasarnya proses pemasakan terbagi pada 2 tahap :
1. Tahap Saponifikasi ( Boiling Off )
Tahap ini untuk menghilangkan zat zat hidrofobik yang
menghalangi proses selanjutnya seperti pektin, wax, protein, abu dan kotoran
organik lainnya.
2. Tahap Pemasakan ( Scouring )
Tahap ini untuk melepaskan hasil saponifikasi kotoran
dari serat berupa penyabunan. Pembentukan sabun dalam pemasakan sangat
dipengaruhioleh kesadahn air dan kandungan mineral.
Jadi dalam proses pemasakan kita memerlukan soda
kostik ( NaOH) ntuk saponifikasi, scouring agent ( deterjen) sebagai pembasah,
pendispersi dan pengemulsi kotoran hasil reaksi serta squestering agent untuk
melunakkan air proses pemasakan.
Logam alkali tanah ( Ca, Mg) dan logam beraty ( Fe,
Cu) dalam bahan atau dalam air akan membenruk ikatan komplek dengan NaOH
sehinmgga mengurangi efektifitas kerja sabun. Juga Hidroksil dan pektin dapat
terikat dalam garam2 dalam air membentuk endapan dan endapan pektin brikatan
dengan kapas melalui ikatan hidrogen
bertujuan untuk menghilangkan “kotoran-kotoran” serat
kapas yang berupa : minyak, lilin (wax) , debu, knitting oil (oli rajut ), dan
kotoran lain yang menempel pada kain. Kotoran serat ini dapat menghalangi
penyerapan serat pada proses selanjutnya.
Pada prinsipnya proses pemasakan serat kapas adalah
dengan mendidihkan bahan tekstil dengan larutan natrium hidroksida / soda
kostik ( NaOH ) dengan konsentrasi tertentu selama waktu dan temperatur
tertentu.
Ilustrasi yang terjadi pada proses pemasakan (
scouring process ) :
Soda kostik mengekstraksi pektin , wax , protein, abu
dan kotoran organik lainnya dengan jalan saponifikasi dan diemulsikan menjadi
bentuk yang larut dalam air dengan bantuan detergen / sabun yang mempunyai daya
pendispersi yang kuat. Proses pemasakan / scouring ini sangat diperlukan untuk
mendapatkan daya serap kain yang baik.
Pemasakan merupakan proses persiapan yang memegang
peranan penting bagi bahan tekstil karena dengan pemasakan akan memudahkan
bahan untuk menyerap zat-zat yang ada pada proses basah berikutnya. Tujuan
pemasakan adalah untuk memperoleh bahan tekstil yang bersih atau untuk
menghilangkan kotoran alami baik berupa lemak, minyak, pektin, serisin,
gum,kulit biji kapas (pada serat selulosa dan protein) dan kotoran dari luar
seperti oli, debu, spinning oil (pada serat sintetik) sehingga meningkatkan
daya serap pada seluruh permukaan bahan secara merata.
Mekanisme proses pemasakan adalah
menyabunkan kotoran berupa lemak, oli, serisin, gum sehingga dapat larut dalam
air serta melepaskan kotoran akibat efek detergensi dari larutan pemasakan dan
gerakan mekanik yang diberikan pada bahan. Pemasakan dapat dilakukan secara
proses tersendiri maupun dilakukan simultan dengan proses penghilanagn kanji
dan pengelantangan. Untuk bahan dengan kandungan kotoran yang tinggi sebaiknya
dilakukan secara terpisah (serat-serat alam), sedangkan untuk bahan yang
terbuat dari serat sintetik atau serat campuran biasanya dilakukan proses
simultan.













